Ahmad Bin Hambal

By | July 8, 2010

Nama beliau

Dialah imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdillah bin Hayyan bin Abdillah bin Anas bin Auf bin Qosith bin Mazin bin Syaiban bin Dzahl bin Tsa’labah bin ‘Ukabah bin Sho’b bin Aly bin Bakar Wail bin Qosith bin Hinbun bin Aqso Asy Syaibani Al Maruzy adz Dzuhly al Baghdady.

Nasab dan kelahirannya

Beliau dilahirkan pada bulan Rabiul Awal tahun 164 Hijriyah di Baghdad ibukota ketika itu. Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh putranya Shalih dan Abdullah. Tidak ada yang berselisih tentang tahun kelahirannya. Hal ini disebabkan beliau mengetahui tahun kelahirannya dan menyebutkannya. Berbeda dengan imam Abu Hanifah dan imam Malik yang para ulama berselisih.

Ketika itu, ibunya datang dalam keadaan hamil dari Marwa yang mana ayahnya berada di sana. Adapula yang mengatakan dilahirkan di Marwa. Akan tetapi yang shahih adalah dilahirkan di Baghdad. Beliau memiliki nasab arab baik dari jalur ayah maupun ibu. Sebab keduanya berasal dari qobilah Syaiban yang merupakan keturunan qobilah Rabi’ah Adnaniyah yang bertemu jalurnya dengan nabi Muhammad saw di jalur nizar. Qobilah Syaibani dikenal dengan tekadnya, kesabarannya, dan baik dalam cobaan baik di masa jahiliyah maupun islamiyah. Darah inilah nantinya yang akan diwariskan kepada Imam Ahmad bin Hambal.

Adapun Hambal bukanlah nama ayahnya akan tetapi merupakan nama kakeknya. Ayahnya adalah Muhammad bin Hambal bin hilal. Pada mulanya keluarga ini tinggal di Khurosan. Di wilayah tersebut kakeknya menjadi wali di wilayah Sarkhos. Kemudian ayahnya merupakan panglima dari panglima kaum muslimin atau seorang tentara yang dekat kedudukannya dengan panglima. Kemudian keluarga tersebut pindah ke Baghdad ketika mendekati kelahiran beliau.

Akan tetapi imam Ahmad belum sempat melihat ayahnya. Ada yang menyebutkan ketika ayahnya meninggal beliau belum dapat melihat dengan membedakan. Para ahli tarikh menyebutkan bahwa ayahnya meninggal dalam usia muda yakni usia 30 tahun dari umurnya. Beliaupun diasuh oleh sang bunda dengan pemeliharan dari pamannya.

Kecenderungan Terhadap Ilmu

Sedari kecil beliau sudah cenderung untuk belajar islam. Beliau menghafal qur’an kemudian mempelajari bahasa arab, hadits, atsar shahabat, atsar tabi’in, siroh nabi Muhammad saw, shahabat dan tabi’in. Telah nampak tanda-tanda kecerdasan beliau dan ketaqwaan semenjak masa muda beliau.

Beliau memilih ilmu -sesuai dengan arahan keluarganya- sehingga selaras antara ketakwaan dengan tabiatnya. Beliau tidak memilih filsafat, tidak pula matematika akan tetapi meilih ilmu agama. Di antara ilmu dien tersebut beliau memilih ilmu hadits. Padahal ketika itu, untuk melakukan perjalanan berpindah antara satu negeri ke negeri lainnya.

Dari hadits beliau pindah ke fiqh. Sehingga berkumpul di hatinya fiqh dan hadits -walaupun para ulama menyebutkan bahwa dirinya condong kepada hadits akan tetapi menurut ijma’ terkumpul di dalam dirinya dua cabang ilmu tersebut-.

Banyak yang kagum terhadap beliau. Hingga Haitsam bin Jamil berkata: “Apabila pemuda ini masih hidup nanti niscaya dia akan menjadi hujjah pada masanya”.  Ternyata semua ini menjadi kenyataan.

Dikalangan shahabatya beliau dikenal dengan ketaqwaan, perhatian terhadap amal, kesabaran, kerja keras, dan kuat menahan cobaan. Beliau bersungguh-sungguh di antara pemuda yang berleha-leha dan bermain-main. Beliau memiliki semangat dalam beramal, hingga membuat para orang tua merasa iri dan ingin anaknya seperti dirinya. Bahkan diriwayatkan bahwa sebagian orang tua berkata: Aku akan menginfakkan uang untuk anakku dan akan ku datangkan para pendidik untuk mengajari mereka hingga aku melihat mereka sukses. Lihatlah Ahmad bin hambal yang hanya seorang anak yatim, bagaimana dia bisa membuat takjub adabnya dan cara bergaulnya?

Perjalanan mencari ilmu

Terlahir dalam keadaan yatim tidak membuat beliau pupus harapan untuk menjadi seorang ulama. Terbukti, Imam Ahmad memilih hidupnya untuk menjadi muhaddits yang meriwayatkan hadits, menulisnya, dan menyampaikannya kepada generasi sesudahnya. Beliau tidak mengambil hadits yang tidak ada keterangannya. Beliau memulai dari fiqh yang mengumpulkan antara riwayat dan diroyat. Beliau mengambilnya dari Abu Yusuf teman Abu Hanifah. Ketika itu beliau merupakan qodhi daulah. Akan tetapi beliau condong kepada haditsnya dan tidak terlalu tertarik dengan fiqhnya. Oleh karenanya beliau berkata: Yang pertama kali aku catat haditsnya adalah dari Abu Yusuf”. Yakni dia bertalaqy dari Abu Yusuf hadits dan merasakan fiqhnya.

Beliau mulai mencari hadits pada tahun 179 H, ketika umurnya menginjak 15 tahun. Sejak tahun tersebut beliau bermuqim di Baghdad untuk mengambil hadits dan menulis setiap yang didengar hingga tahun 186 H. Beliau mengambil hadits dari para syaikhul hadits di sana. Beliau mencukupkan diri 7 tahun setelah menimba hadits dari ulama’ Baghdad dan menghafalkan fatwa ulama dan perkara yang terjadi di antara shahabat dan tabiin dalam bab fiqh yang berbeda. Daerah yang beliau ambil pertama kali adalah Baghdad. Setelah beliau hafal kebanyakan haditsnya, beliau pindah. Pada tahun ini pula datang ahlu hadits Abdullah bin al Mubarok kemudian beliau berusaha mendatanginya. Sayangnya Ibnu Mubarok telah berangkat ke Thorosus untuk memerangi Romawi.

Kebanyakan beliau mendengar hadits dari Husyaim bin Basyir. Beliau bermulazamah kepadanya hingga Husyaim bin Basyir meninggal tahun yakni tahun 183 H. Beliau menulis lebih dari 3000 hadits. Tampaklah kemampuan Imam Ahmad ketika itu. Ketika syaikhnya meninggal, beliau melakukan perjalanan ke Kufah dengan berjalan kaki. Itulah perjalanan perdananya. Umurnya ketika itu 20 tahun. Di sana beliau berguru kepada Abu Muawiyah Adh Dharir (wafat 194 H) dan waki’ (wafat 197 H). Tersiar kabar bahwa beliau merupakan hujjah dalam hadits Husyaim. Sampai-sampai Imam Waki’ bertanya kepadanya apakah masih ada hadits yang tidak diketahuinya dari Husyaim. Beliaupun menjawab: “Sudah tidak ada lagi”. Di Kufah beliau hafal seluruh kitab Waki’ dan banyak tulisan tentangnya. Imam Waki’pun begitu menghormatinya dan mengakui kemampuannya.

Kemudian pada tahun 186 H beliau melakukan perjalanan ke Bashroh. Di sana beliau mendengar dari Mu’tamir bin Sulaiman (wafat 187 H), Bisy bin Al Mufadhol (wafat 187 H), dan Marhum bin Abdul Aziz al Umawy (wafat 188 H), serta ulama lainnya.

Di tahun berikutnya perjalanan dilanjutkan ke Hijaz. Seluruh perjalanan beliau berkutat antara Bashroh, Kufah, Hijaz, dan Yaman. Beliau langsung mengambil hadits dari mereka yang masih hidup. Beliau tidak pernah mencukupkan hanya dengan buku yang diriwayatkan oleh mereka tanpa bertemu bertatap muka. Hal ini agar lebih kuat derajat periwayatannya.

Dikisahkan beliau melakukan perjalanan ke Bashroh lima kali dan ke Hijaz lima kali. Perjalanan perdana pada tahun 187 H. Pada tahun itulah untuk pertama kalinya bertemu dengan imam Syafi’i. Pertemuan tersebut terjadi di Masjidil Haram di Makkah. Sedangkan pertemuan kedua di Baghdad, ketika Imam Syafi’I berkunjung ke sana untuk menyebarkan madzhabnya.

Beliau mendahulukan untuk mengambil hadits dan mengakhirkan fiqh. Ketika itu ulama hadits tersebar di seantero penjuru negeri di negeri islam. Di Baghdad, Kufah, Bashroh, Hijaz, dan Yaman. Beginilah keadaan para pencari hadits. Harus melakukan perjalanan lintas negeri untuk berburu hadits.

Adapun perjalanan haji Imam Ahmad diceritakan secara rinci oleh Ibnu Katsir. Beliau berkata: “Haji pertama pada tahun 187 H, kemudian 191 H, kemudian haji ketiga dan keempat tahun 196 H dan menetap hingga 197. Kemudian berhaji kembali tahun 198 H dan menetap hingga 199 H.”

Imam Ahmad berkata: “Aku haji lima kali, tiga di antaranya dengan berjalan kaki”. Dalam salah satu haji aku menginfakkan 30 dirham. Pernah suatu ketika aku tersesat dan aku berjalan kaki. Kemudian aku berkata: Wahai hamba Allah tunjukkanlah kepadaku jalan yang benar. Akhirnya aku mendapat petunjuk jalan yang benar.” Begitulah perjalanan haji beliau. Akan tetapi perjalanan haji tersebut tidak hanya semata-mata untuk berhaji akan tetapi memeliki niatan lain. Yakni untuk menyebarkan hadits rasulullah saw.

Dalam mencari hadits beliau rela menempuh perjalanan yang jauh dan susah. Di manapun mereka berada akan didatangi. Beliau lebih mengutamakan yang banyak ujiannya daripada yang lebih mudah didapatkan. Sebab yang mudah akan dilupakan sedangkan yang didapatkan dengan cara yang susah akan lebih berkesan dan sulit untuk dilupakan.

Seusai haji, beliau pernah memiliki keinginanan untuk menimba ilmu kepada Abdur Rozaq bin Hammam -seorang ahli hadits yang berasal dari Shon’a- untuk mengambil hadits darinya. Akhirnya beliaupun berhasil mewujudkannya. Padahal ketika haji beliau bertemu dengannya dan memungkinkan baginya untuk mengambil hadits darinya. Akan tetapi beliau lebih memilih untuk mencari  dengan susah payah.

Dalam perjalanan ke Shon’a kehidupan beliau sungguh merana. Kendaraannya pun susah. Pun, ketika dalam perjalanan bekal beliau habis. Maka beliau أكرى نفسه في  menawarkan jasa kepada mereka yang akan mengangkutnya. Padahal teman-temannya menawarkan diri untuk mengulurkan bantuan. Dengan halus semua tawaran tersebut ditolak sembari mengucap syukur dan memuji Allah karena telah memberikan kekuatan yang memungkinkan baginya untuk memperoleh bekal sepanjang perjalanan dengan kekuatan badannya.

Sesampainya di Shon’a beliau bertemu dengan Abdur Rozzaq. Abdur Rozzaq pun berusaha untuk menolongnya dengan mengulurkan beberapa dinar seraya berkata: Ambillah ini dan manfaatkanlah. Sesungguhnya bumi kita ini bukanlah bumi perdanganan.” Imam ahmad pun menolaknya dengan santun dan berujar: “Aku dalam keadaan baik”. Di sana beliau tinggal selama 2 tahun dalam keadaan susah. Beliau mendengar hadits dari jalur Az Zuhri dan Ibnu Musayyib yang sebelumnya pernah didengarnya.

Perjalanan karir beliau

Imam Ahmad mencari ilmu langsung ke sumbernya. Beliau menulis dari mereka dan menghafalkan apa yang beliau tulis dengan semangat. Beliau tidak saja mencukupkan diri di Baghdad akan tetapi beliau juga melancong ke seluruh penjuru negeri untuk menimba ilmu.

Beliau merasa kehilangan para senior dalam bidang hadits.  Akan tetapi Allah memberikan ganti. Karenanya beliau berkata: “Aku telah kehilangan Malik maka Allah menggantinya dengan Sufyan bin Uyainah. Aku juga kehilangan Hammad bin Zaid maka Allah pun menggantinya dengan Ismail bin ‘Aliyah.”

Beliau tidak duduk untuk memperdengarkan hadits dan fatwa kecuali setelah berumur 40 tahun. Hal ini sebagaimana yang diceritakan oleh Ibnu Jauzy. Padahal ketika itu sebagian orang semasanya mendatangi beliau untuk mencari hadits pada tahun 203 H. Beliau enggan meriwayatkan hadits malahan pergi ke Abdur Rozaq bin Hamam yang berada di Yaman. Kemudian pada tahun 204 H beliau pulang. Setelah kepulangannya tersebut beliau mulai meriwayatkan hadits dan orang banyak mulai mendatanginya.

Sebenarnya ada rahasia di balik itu semua. Menilik kisah imam Syafi’i kita dapati beliau sudah mulai meriwayatkan hadits dan berfatwa sebelum umurnya mencapai 40 tahun. Begitu juga imam Malik. Lantas apa rahasia di balik itu? Ada yang mengatakan bahwasanya ketika itu guru imam Ahmad masih hidup. Maka beliau pun enggan sebab Abdur Rozaq masih hidup.

Pujian Para Ulama

Abdur Rozaq As Shon’ani berkata: “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih faqih, tidak pula lebih wara’ dari Ahmad bin Hambal”.

Qutaibah bin Sa’id berkata: Sebaik-baik penduduk di masa kami adalah Ibnu Mubarok kemudian pemuda ini -yakni Ahmad bin Hambal-. Apabila kamu melihat seorang laki-laki mencintai Ahmad, maka ketahuilah dia adalah pengikut sunnah. Seandainya dia mendapati masa Ats Tsauri, Al Auza’i, dan Laits tentu akan lebih diutamakan daripada mereka. Kemudian ada yang bertanya kepada Qutaibah: Apakah Ahmad dimasukkan di kalangan tabi’in? Beliau menjawab: “Bahkan kepada Kibaru Tabi’in”.

Hirmalah berujar: Aku mendengar Imam Syafi’i bertutur: “Aku meninggalkan Baghdad dan tidak kutinggalkan seorang laki-laki yang lebih baik, lebih tahu, lebih faqih, dan lebih bertakwa daripada Ahmad bin Hambal.”

Ali bin Khosyram berkata: aku mendengar Basyar bin Al Harits bercerita: Aku bertanya tentang Ahmad bin Hambal. Sesungguhnya Ahmad laiknya dimasukkan ke pembakaran kemudian keluar emas merah”.

Amru an Naqid berkata: “Apabila Ahmad bin Hambal sesuai denganku dalam masalah hadits maka aku tidak akan menghiraukan siapapun yang menyelisihiku”.

Muhammad bin Yahya adz Dzuhly berkata: “Aku menjadikan Ahmad bin Hambal imam antara aku dan Allah.”

Ali bin Madini berkata: “Apabila aku mendapatkan satu permasalahan, kemudian Ahmad bin Hambal memberikan fatwa kepadaku, maka aku tidak akan menghiraukan bagaimana keadaanku apabila bertemu dengan Rabbku”

Yahya bin Mu’in berkata: Sesungguhnya di dalam diri Ahmad bin Hambal terdapat sifat yang tidak pernah ku lihat di alam ini. Dia seorang muhadits (ahli hadits), hafidz, alim, wara’, zuhud, dan berakal. Dia melanjutkan perkataannya: “Manusia ingin kami seperti Ahmad bin Hambal, demi Allah, kami tidak kuasa untuk menjadi sepertinya dan tidak mampu mengikuti jalannya.”

Ibnu Jauzi dalam kitab Manaqibul Imam Ahmad bin Hambal berkata: Aku mendengar Abdul Malik Al maimuny berkata: “Kedua mataku tidak pernah melihat seseorang yang lebih mulia daripada imam Ahmad bin Hambal. Aku juga tidak pernah melihat seorang ahli hadits yang lebih mengagungkan batasan-batasan Allah dan sunnah Nabinya apabila dianggapnya shahih. Tidak pula seseorang yang lebih mengikuti sunnah melebihi dirinya.”

Marudzi berkata: “Aku melihat dokter Nasrani keluar dari rumahnya Imam Ahmad dan bersamanya Pendeta. Pendeta tersebut berkata: ‘Sesungguhnya dirinya memintaku untuk menemaninya bertemu dengan Abu Abdullah (Imam Ahmad). Kemudian aku mengajaknya masuk ke rumah Abu Abdullah, dan dia berkata kepadanya: Sesungguhnya aku sangat ingin sekali melihatmu sejak bertahun-tahun yang lalu. Tidaklah keberadaanmu mendatangkan kebaikan bagi Islam saja. Akan tetapi bagi seluruh makhluk. Dan tidaklah ada salah seorang di antara teman kami kecuali dia ridho kepadamu.”

Ibrahim al Harabi berkata: aku melihat abu abdillah, seakan Allah mengumpulkan padanya ilmu orang-orang awaliyin dan akhirin.

Sifat-Sifat Beliau

Sesungguhnya sebagian sifat imam Ahmad merupakan karunia ilahi. Sebagian lainnya didapat dengan pembiasaan diri dan pengarahan orangtuanya.

Sifat pertama adalah kuatnya hafalan dan cepat paham. Sifat inilah yang umum ada pada para ahi hadits. Sifat ini pula menjadi asas setiap ilmu. Oleh karenya setiap ahlu ilmi harus memiliki hafalan. Sebab, parameter kecerdasan seseorang adalah hafalannya dan dapat mereview hafalan tersebut pada waktu yang tepat. Sungguh, Allah telah memberikan kepada imam Ahmad sifat ini dengan sangat melimpah. Kabar tentang kecerdasan tersebut sangatlah banyak yangmana satu dan yang lainnya saling menguatkan.

Orang-orang semasanya pun mengakui kecerdasan dan kuatnya ingatan beliau. Pernah suatu ketika Abu Zar’ah ditanya: “Syaikh dan Ahlu hadits mana yang kamu lihat paling kuat hafalannya?” “Imam Ahmad”, jawabnya. Putranya Abdullah juga menerangkan kuatnya hafalan beliau. Dia berkata: “Saya mendengar Abu Zur’ah berkata: “Ayahmu hafal 1.000.000 hadits.”

Selain menghafal hadits rasulullah saw, sunnah shahabat dan fatwa mereka, perkataan tabiin dan fatwa mereka, beliau paham betul terhadap apa yang dihafal. Laiknya seorang arif yang menyimpulkan atas apa yang diketahui. Inilah yang membuat nilai lebih pada diri imam Ahmad bin Hambal. Sebab, di masanya para ahli hadits hanya dapat meriwayatkan tanpa memahami kandungan fiqh di dalamnya. Mereka tidak dapat mengistinbatkan hukum fiqh darinya. Berbeda dengan imam Ahmad.

Hal ini sebagaimana dikisahkan oleh Ishaq bin Rahawiyah: “Aku bermajelis dengan Imam Ahmad, Yahya bin Mu’in, dan teman-teman kami di Iraq. Maka aku bertanya: “apa maksudnya ini? Apa Tafsirnya? Akan tetapi mereka tidak faham. Mereka tidak menjawabnya kecuali Ahmad bin Hambal”.

Sifat kedua adalah Sabar dan solid. Asasnya adalah kuatnya kemauan beliau dan kejujurna tekad. Terbukti ketika beliau melakukan safar dalam mencari hadits. Selama perjalanan beliau tidak mau menerima pemberian. Beliau memilih untuk bekerja dan memakan hasil kerja tangannya sendiri untuk bertahan hidup. Padahal tak sedikit yang mau memberinya uang.

Begitu juga karena tekad beliau membela kebenaran akhirnya membuatnya harus mendekam di balik jeruji penjara. Semuanya diterima dengan sabar. Oleh para ulama hal ini dimasukkan dalam kategori “Shabrun Jamil”. Selama di penjara beliau terpaksa tidak dapat menyampaikan hadits, memberikan penjelasan permasalahan agama, dan kegiatan dakwah lainnya.

Dalam menghadapi semua itu beliau tidak pernah berkeluh kesah ataupun mengadu kepada siapaun. Tidak pula meminta keringanan hukuman kepada penguasa ketika itu.

Beliau juga zuhud terhadap dunia. Tidak mau menerima pemberian dari sahabatnya, amir, ataupun dari kholifah. Padahal beliau menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa boleh berhaji dengan harta tersebut. Namun beliau lebih memilih untuk meninggalkan semua itu.

Sifat yang lain adalah ikhlas. Allah telah memberikan karunia banyak kepada imam Ahmad dengan mengaruniakan keikhlasan dalam mencari ilmu kitab (al Qur’an) dan as sunnah. Tidak pernah terbersit keinginan dunia dari semua ilmu tersebut. Yahya bin Mu’in bertutur: “Tidaklah aku melihat orang yang menyerupai Ahmad bin Hambal. Aku bersahabat dengannya 50 tahun, akan tetapi tidak pernah kudapati dirinya membanggakan apa yang ada padanya dari kebaikan.”

Beliau juga tidak pernah menceritakan amal yang beliau kerjakan. Tidak dalam ibadah, maupun ketika mencari ilmu, sekecil apapun itu. Sampai-sampai ketika membawa alat tulis merupakan riya’. Beliau berkata: “menampakkan tinta termasuk riya’” Oleh karenanya beliau tidak menampakkannya.

Dari diri beliau terpancar aura karisma yang membuat setiap orang yang melihatnya segan. Beliau disegani oleh kawan maupun lawan. Sehingga setiap perkataannya mengena ke lubuk hati yang paling dalam. Hingga para prajurit yang akan menanggap beliau dan mengepung rumahnya enggan untuk mengetuk pintu. Mereka hanya berdiri di luar. Akhirnya mereka mengetuk rumah paman beliau dan masuk lewat pintu tersebut.

Perasaan ini pula yang dirasakan oleh para murid-murid beliau. Padahal beliau seorang yang lembut, baik ketika mengajar maupun dalam pergaulan. Tak heran apabila salah seorang dari murid beliau berkata: “Kami segan untuk membantah atau mendebatnya beliau dalam suatu perkara.”

Di dalam majelis beliau tidak terdapat hal yang sia-sia. Tidak dibicarakan kecuali tentang ilmu qur’an dan sunnah atau hanya diam.

Selain itu beliau seorang yang tekun dalam beribadah. Ujian yang menimpa beliau sehingga di penjara, tidak membuatnya futur. Walaupun akibat dari siksaan yang beliau terima melemahkan fisiknya namun tidak menyurutkan tekadnya. Sebagaimana yang diceritakan oleh putranya, Abdullah bin Ahmad. Dia bertutur: “Ayahandaku senantiasa shalat 300 rakaat dalam sehari semalam. Dan ketika beliau sakit karena cambukan, maka semua itu melemahkan dirinya. Oleh karenanya beliau shalat 150 rakaat dalam sehari semalam.”

Sifat yang lain adalah supel dan baik dalam pergaulan. Beliau adalah seorang yang sangat pemalu. Beliau malu kepada Allah sebenar-benar malu. Tidak seperti malunya orang munafiq. Ketenaran beliau tidak membuatnya menyombongkan diri. Tapi beliau tetap seperti sediakala.

Akhir Hayat Beliau

Wafat beliau pada hari Jum’at 12 Rabiul Awal tahun 241 H pada umur 77 tahun. Ketika meninggal yang melayat tidak kuran dari 800000 orang. Sebab ketika beliau meninggal beliau masyhur hingga penjuru iraq dan setiap jengkal wilayah islam. Maka meninggalnya beliau merupakan sesuatu yang menggemparkan yang diketahui oleh banyak orang.

Karangan Beliau:

  1. Musnad Ahmad bin Hambal
  2. Buku ‘Ilal, disebutkan oleh al ‘Uqaily di “Adh Dhu’afa’ 3/239. buku tersebut dibacakan kepada Abdullah bin Ahmad dari ayahnya. Dicetak di Istanbul tahun 1987 dalam dua jilik dengan tahqiq dari Qouj Yaikit dan Ismail Jaroh Ughly. Dicetak pula di Maktab Islami tahun 1988 H dengan tahqiq Doktor Muhammad Abbas dalam empat jilid.
  3. Kitab Nasikh dan Mansukh
  4. Kitab “Zuhud”, Ibnu Hajar dalam “Ta’jilul Manfa’ah” berkata: Sesungguhnya itu buku yang besar. Besarnya mencapai sepertiga kitab musnad. Di dalamnya terdapat banyak hadits-hadits dan atsar yang tidak terdapat dalam kitab musnad.
  5. Kitab “Al Faroidh”
  6. Kitab “Al Manasik”
  7. Kitab “Al Iman”.
  8. Kitab “Al Asyribah”
  9. Kitab “Tha’atur Rasul”
  10. Kitab “Kitab Ar Raddu ‘ala al Jahmiyah”. Imam Adz Dzahabi dalam “As Siar” berkata: “Ar Roddu ‘ala al Jahmiyah” merupakan buku karangan Abu Abdillah -yakni Imam Ahmad-
  11. Hadits Syu’bah
  12. Al Muqoddam wal Muakhkhor fie kitabillah.
  13. Jawabatul Qur’an
  14. Kitab “Nafyu At Tasybih”
  15. Kitab “Al Imamah”
  16. Ar Risalah fie Ash Shalah
  17. Kitabul Fitan
  18. Kitab “Fadhoilu Ahlil Bait”
  19. Musnad Ahlil Bait
  20. Al Asma’ wal Kuna

Referensi:

-          Muhadharat fie tarikh al Madzahib al Fiqhiyah, Al Ustadz Asy Syaikh Muhammad Abu Zahrah, Al Mathba’ Al Madany

-          Ahmad bin Hambal, Al Imam Muhammad Abu Zahroh, Darul Fikri Al ‘Aroby

-          Musnad Ahmad bin Hambal, Tahqiq Syu’aib al Arnold, Adil Mursyid, Al Muassasah Ar Risalah, Cetakan pertama 1995 M/ 1416 H.

-          Nuzhatul Fudhala’ Tahdzib Siyaru An Nubala’, Muhammad Hasan ‘Aqil Musa, Darul Andalus

Oleh: Fimansyah

Incoming search terms for the article:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*