Al Makmun bin Abdullah Abul Abbas

By | July 10, 2010

Mendengar nama Al Makmun tentu kebanyakan kita langsung terbersit dengan sosok yang kejam. Sebab dialah yang memberikan hukuman cambuk kepada Imam Ahmad karena tidak mau mengatakan Al Quran adalah makhluk.

Sosok bengis tak berperikemanusiaan dan gambaran-gambaran lainnya. Tapi, siapa sangka ternyata dirinya tidak seperti dalam benak kita selama ini. Banyak keutamaan yang dia miliki –walaupun tidak kita pungkiri fitnah yang ditimbulkannya tidak kalah dahsyat-.

Al Makmun Abdullah Abu AL Abbas bin Ar Rasyid, dilahirkan pada tahun 170 H. Tepat pada malam Jum’at di pertengahan bulan Rabiul Awwal. Pada malam itu bersamaan dengan kematian al Hadi dan digantikan oleh ayahnya, Ar Rasyid.

Ibunya adalah mantan budak yang kemudian dikawini oleh ayahnya. Namanya murajil. Dia meninggal saat masih dalam keadaan nifas setelah melahirkan Al Makmun. Sejak kecilnya Al makmun telah belajar banyak ilmu.

Dia menimba ilmu hadits dari ayahnya, dari Hasyim, dari Ibad bin Al Awam, dari Yusuf bin ‘Athiyyah, dari Abu Mu’awiyah Adh Dharir, dari Ismail bin ‘Aliyah Hajjaj Al A’war, dan ulama-ulama lainnya di zamannya.

Al Yazidi adalah orang yang menggemblengnya. Dia seringsekali mengumpulkan para fukaha dari berbagai penjuru negeri. Dia memiliki pengetahun yang sangat luas dalam masalah fikih, ilmu bahasa Arab dan sejarah umat manusia. Saat dia menjelang dewasa, dia banyak bergelut dengan ilmu filsafat dan ilmu-ilmu yang pernah berkembang di Yunani sehingga membuatnya menjadi seorang pakar dalam bidang ilmu ini. Ilmu filsafat yang dia pelajari telah menyeretnya kepada pandapat yang menyatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluk.

Dia adalah tokoh bani Abbasiyah yang paling istimewa dalam kemauannya ang kuat, kesabaran, keluasan ilmu, kecemerlangan ide, kecerdikan, kewibawaan, keberanian, dan ketolerannya.

Dia memiliki kisah hidup panjang yang penuh dengan kebaikan-kebaikan. Sayangnya jejak kehidupannya yang demikian baik sedikit tercemari dengan peristiwa yang menggemparkan saat dia mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluk.

Tidak seorangpun dari kholifah bani Abbasiyah yang lebih pintar darinya. Dia adalah seorang pembicara yang fasih dan singa podium yang lantang. Tentang kefasihannya dia berkata, “Juru bicara Mu’awiyah adlah ‘Amr bin Ash, juru bicara Abdul Malik adalah Hajjaj, dan juru bicara saya adalah saya sendiri.”

Disebutkan bahwa dalam beberapa bulan Ramadhan Al Makmun bisa mengkhatamkan Al Qur’an sebanyak tiga puluh tiga kali. Dia dikenal dengan condong kepada Syiah.

Abu Ma’syar Al Munajim berkata, “Al Makmun adalah seorang khalifah yang selalu menyuruh kepada keadilan, seorang yang memiliki kepakaran dalam ilmu jiwa dan dianggap berada dalam deretan para ulama besar.”

Diriwayatkan dari Ar Rasyid dia berkata, “Sesungguhnya saya dapatkan dalam diri Al Makmun ambisi Al Manshur, ibadah Al Mahdi dan harga diri Al Hadi. Adnaikata saya mau menisbatkannya kepada keempatnya –maksudnya adalah dirinya sendiri- maka saya akan menisbatkannya. Saya lebih mendahulukan Muhammad daripadanya, padahal sebenarnya saya tahu bahwa dia adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, suka berlaku boros dan foya-foya dengan semua harta yang ada di tangannya. Di samping itu ia juga senang bermain wanita. Andaikata bukan karena Ummu Ja’far dan kecenderungan bani Hasyim pastilah saya lebih mendahulukan Abdullah.”

Al Makmun berkata, “sesungguhnya semua yang saya lakukan adlaah karena saya melihat saat Abu Bakar berkuasa dia sama sekali tidak pernah mengangkat seorang pun dari Bani Hasyim. Demikian pula Umar dan Utsman. Setelah ali menjadi kholifah, dia mengangkat Abdullah bin Abbas sebagai gubernur Bashrah, Ubaidillah sebagai gubernur Yaman, Ma’bad sebagai gubernur Makkah dan Qutsam sebagai gubernur Bahrain. Dia tidak meninggalkan seorang pun dari keturunan Abbas kecuali memberinya suatu jabatan. Ini tentu saja merupakan perbuatan yang harus mendapat sikap yang setimpal dari kita yang berkuasa saat ini.

Pada tahun 210 H, Al Makmun menikah dengan Buran binti Al Hasan bin Sahl. Persiapan pernikahan ini menelan biaya demikian banyak. Ayah buran mencutikan beberapa komandannya dan menugasi mereka untuk mengurusi perkawinan anaknya selama tujuh belas hari. Dia menulis di atas beberapa cari kertas nama-nama ladang yang dia miliki, lalu dia taburkan kertas itu kepada pada komandan itu para pemuka Bani Abbas. Barangsiapa yang mendapatkan kertas yang bertuliskan nama lading, maka Buran akan menyerahkan lading itu kepadanya. Dia juga menaburkan guci yang berisi pertama di depan Al Makmun saat malam pengantin.

Kisah Ishaq bertanya kepada Al Bisyr dan Imam Ahmad. Larangan memberi fatwa bagi yang tidak mengatakan al Qur’an adalah makhluk.

Ternyata semua yang hadir pada saat itu menyatakan bahwa al Qur’an adalah makhluk. Hanya imam Ahmad bin Hambal, Sajadah, Muhammad bin Nuh dan Al Qawariri yang tidak mau mengatakan bahwa al Qur’an adalah makhluk. Akhirnya ishaq memerintahkan agar mereka diborgol. Lalu dia menanyakan pendapat mereka tentang Al Qur’an. Dalam keadaan terikat itulah mereka ditanya dan Sajadah pun mengiyakan. Lalu ishaq mengulangi pertanyaan itu sebanayk tiga kali hingga Al Qawariri pun mengiyakan. Sedangkan Imam Ahmad dan Muhammad bin Nuh akhirnya dikirim ke Romawi.

Al Makmun meninggal pada hari Kamis, tanggal delapan belas Rajab tahun 218 H. di sebuah wilayah yang disebut Badidun, sebuah tempat di Romawi. Dan selanjutnya dibawa ke Tharsus dan dimakamkan di sana.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Muhammad bin Abdullah dia berkata, “Tidak ada seorang pun yang hafal Al Qur’an dari kalangan khalifah kecuali Utsman bin ‘Affan dan Al Makmun. Tentang ini telah saya terangkan sebelum ini.”

Beberapa perkataannya:

Al Makmun berkata, “Keadilan yang pertama adalah hendaknya adil kepada diri sendiri, kemudian kepada orang yang dekat dengannya hingga sampai kepada orang yang jauh secara kekerabatan.”

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdullah bin Muhammad Az Zuhri, dia berkata bahwa Al Makmun berkata, “Bagi saya, menang dalam adu argument itu lebih saya sukai daripada menang dalam adu kekuatan. Sebab kemenangan dengan kekuatan akan lenyap bersma lenyapnya kekuatan itu. Sedangkan kemanangan argumentasi tidak akan pernah dilenyapkan oleh apa pun.”

Al ‘Atabi berkata bahwa dia pernah mendengar Al Makmun berkata, “Barangsiapa yang tidak menghargai atas kebaikan niat, maka dia tidak akan mensyukurimu atas perbuatan baikmu.”

Dia juga meriwayatkan dari Ali bin Abdur Rahim Al Marwazi dia berkata, Al Makmun berkata, “Orang yang paling zhalim kepada dirinya sendiri adalah orang yang mendekat kepada orang yang menjauhinya, merendahkan diri kepada orang yang tidak menghormatinya, dan menerima pujian dari orang yang tidak diketahuinya.”

Oleh: Firmansyah

Incoming search terms for the article:

One thought on “Al Makmun bin Abdullah Abul Abbas

  1. Pingback: Daftar Artikel Oaseimani | OaseImani.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*