Manakah yang lebih mulia? Malaikat atau manusia

By | July 26, 2010

Maksud keutamaan atau kemuliaan di sini adalah antara malaikat dan seorang mukmin yang sholih seperti para nabi dan wali Allah. Sedangkan orang kafir atau munafik maka mereka lebih buruk daripada hewan ternak. Sebagaimana Allah mensifati mereka dengan firman-Nya:

بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (الأعراف: 179)

“Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Al A’rof: 179)

Dalam hal ini pensyarah Thohawiyah mengutamakan orang sholih dan para nabi dari malaikat. Sedangkan orang mu’tazilah mengutamakan malaikat. Para pengikut asy’ariyah terkelompok menjadi dua. Sebagian mereka mengutamakan para nabi dan para wali dan sebagian lainnya tawaqquf (tidak berpendapat). Disebutkan juga bahwa Abu Hanifah tawaqquf dalam masalah ini. Sedangkan Safaroni dalam “Lawami’ul Anwar 2/389″ menyebutkan bahwa Imam Ahmad berkata, “Siapa yang mendahulukan malaikat maka dia telah salah. Setiap mukmin lebih mulia dari malaikat.”

Dalil mereka yang mengutamakan orang sholih

  1. Sesungguhnya Allah memerintahkan malaikat untuk bersujud kepada Adam. Kalau bukan karena keutamaan Adam mengapa malaikat diperintahkan sujud.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ (البقرة: 34)

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (Al Baqoroh: 34)

  1. Sesungguhnya Adam diciptakan dengan tangan-Nya dan malaikat diciptakan lewat kalimat-Nya.
  2. Bani Adam dimuliakan dengan ilmu. Ketika Allah bertanya kepada malaikat tentang nama-nama mereka tak dapat menjawabnya. Mereka mengakui bahwa mereka tidak mengetahui hal itu maka Adam pun menjelaskan kepada mereka. Allah berfirman:

وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ ()قَالُوا سُبْحَانَكَ لا عِلْمَ لَنَا إِلا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ()قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ()

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!” Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini”. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu” (Al Baqoroh: 31-33)

  1. Ketaatan manusia lebih berat. Dan yang lebih berat maka lebih mulia. Sebab manusia diciptakan dengan syahwat, hawa nafsu, dan amarah. Sedangkan malaikat tidak memiliki semua itu.
  2. Allah membanggakan ahlu iman dan tho’at di depan malaikatnya apabila melaksanakan kewajiban yang telah ditetapkan kepada mereka. Sebagaimana membanggakan Ahlu Arofah. Dari Abu Huroiroh t bahwasanya rasulullah n bersabda:

إِنَّ اللهَ يُبَاهِيْ بِأَهْلِ عَرَفَاتٍ أَهْلَ السَّمَاءِ فَيَقُوْلُ لَـهُمْ انْظُرُوْا إِلَى عِبَادِيْ هَؤُلاَءِ جَاؤُوْنِيْ شُعْثًا غَبْرًا

“Sesungguhnya Allah membanggakan Ahlu Arofah di depan penduduk langit. Dia berfirman, “Lihatlah kepada hambaku, mereka mendatangiku dengan rambut kusut dan berdebu.”

Dalil mereka yang mengutamakan malaikat

  1. Mereka berdalil dengan firman Allah dalam hadits qudsi:

قوله تعالى في الحديث القدسي: مَنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ وَ مَنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلأٍٍَ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلَأٍ خَيْرٌ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang mengingat-Ku dalam dirinya maka Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku, dan barangsiapa mengingatku di malaikat yang kusebutkan maka Aku akan mengingat mereka dalam malaikat yang lebih baik dari mereka.”

  1. Mereka berdalil anak adam (manusia) memiliki kekurangan dan keterbatasan. Dan mereka sering tergelincir dan dosa.
  2. Mereka berdalil dengan firman Allah:

قُلْ لا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلا مَا يُوحَى إِلَيَّ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الأعْمَى وَالْبَصِيرُ أَفَلا تَتَفَكَّرُونَ

Katakanlah: “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Katakanlah: “Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?” Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya)?(Q.S. al An’am: 50)

Bagaimana mendudukkannya?

Sebagaimana disebutkan Ibnu Taimiyah bahwa orang sholeh lebih mulia dari malaikat apabila dilihat dari tempat akhir kehidupan. Hal ini disebabkan apabila mereka masuk jannah akan mendapatkan kedekatan dan menempati kedudukan tinggi. Allah menghidupkan mereka dan mengkhususkan mereka dengan kedekatan kepadanya. Dan mendapat kemuliaan. Mereka merasakan kesenangan dengan melihat wajah-Nya, dan malaikat menjadi pelayan mereka dengan izin Allah.

Malaikat lebih mulia apabila dilihat dari awalnya. Sesungguhnya malaikat sekarang di dekat Allah. Mereka bersih dari apa-apa yang dikerjakan oleh anak Adam. Mereka sibuk dengan ibadah. Dan tidak diragukan bahwa keadaan mereka lebih sempurna daripada keadaan manusia. Ibnu Qoyyim al Jauziyyah berkata, “dengan rincian seperti ini maka jelaslah rahasia pengutamaan antara manusia dan malaikat. Kedua dalil dari masing-masing kelompok dapat disatukan sesuai dengan haknya masing-masing. Wallahu a’lam.

Referensi:

Aqidah Ahlus Sunnah wal jama’ah, DR. Ahmad Farid, Maktabah Fayadh, Cetakan pertama 2005

Oleh: Firmansyah

Incoming search terms for the article:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*